IF you are cold, tea will warm you.
If you are too heated, it will cool you.
If you are depressed, it will cheer you.
If you excited, it will calm you.
(Pakar teh dunia dari Inggris, WE Gladstone, 1865)
Hijaunya bagaikan bentangan permadani
Perkebunan
teh dalam satu hamparan yang terluas di dunia ternyata ada di
Indonesia, yaitu di Kayu Aro, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci,
Provinsi Jambi, sekitar 452 km sebelah barat Kota Jambi. Lokasi
tepatnya, nun jauh di sana, di kaki sebelah selatan Gunung Kerinci,
gunung tertinggi di Sumatera (3.805 meter dari permukaan laut). Mata
kami seperti tak ingin berkedip saat melintasi perkebunan teh Kajoe Aro
yang dibuka sejak tahun 1925 M.
PT
Perkebunan Nusantara VI (PT PN VI) yang menaungi atau mengelola
perkebunan teh Kayu Aro saat ini memproduksi teh dengan merek dagang
Kajoe Aro. Teh Kajoe Aro ini dibudidayakan di dataran tinggi (highland
tea), pada ketinggian 1.400 sampai 1.600 meter dari permukaan laut
(dpl). Perkebunan teh Kayu Aro merupakan perkebunan teh tertinggi nomor
dua di dunia, setelah perkebunan teh Darjeling di kaki Gunung Himalaya
dengan luas sekitar 500 hektar yang berada pada ketinggian 4.000 meter
dpl. Namun,perkebunan teh Darjeling di kaki Gunung Himalaya tidak bisa
dipetik sepanjang tahun, karena pada musim dingin tertutup salju.
Sejak
pukul 07.00, aktivitas ratusan pemetik teh mulai hidup.
Perempuan-perempuan setengah baya menggendong keranjang anyaman rotan
dari rumah. Mereka langsung sibuk memetik pucuk-pucuk teh hijau dan
menyusunnya dalam keranjang rotan, sambil asyik mengobrol satu sama
lain. Suasananya sedikit aneh ketika mendengar mereka bercakap-cakap.
Rasanya memang tidak seperti di Sumatera karena mereka menggunakan
bahasa Jawa. Berusaha meyakinkan diri sendiri, saya bukan sedang di
tanah Jawa kan? Dan, sebuah pertanyaan spontan meluncur, “Mengapa mereka
tak ada yang berbahasa Melayu Jambi, padahal kita sedang berada di
Kerinci?”
Perkebunan
Teh Kajoe Aro yang dibangun sekitar tahun 1925 oleh perusahaan Belanda,
Namblodse Venotschaaf Handle Veriniging Amsterdam (NV HVA), ini semula
digarap ramai-ramai oleh kuli atau pekerja-pekerja yang sengaja
didatangkan dari Pulau Jawa. Nah, pemetik teh yang sekarang adalah
anak-anak atau cucu-cucu para kuli pada masa lalu. Di Perkebunan Teh
Kajoe Aro telah berkembang permukiman para pemetik kebun, lengkap dengan
sarana kesehatan, pendidikan, dan pasar.
“Dari
nenek, ibu, dan saya sendiri, kami semua bekerja di kebun teh ini,”
tutur Ngadinem, pemetik teh yang neneknya berasal dari Pati, Jawa
Tengah. Setelah mengobrol beberapa saat, Ngadinem mengingatkan kami
untuk sebaiknya jangan sampai lupa mengunjungi Aroma Pecco, wisma dan
taman di kawasan perkebunan. Di sana terdapat sebuah pohon teh berusia
ratusan tahun. Diameternya sekitar dua meter.
Perkebunan Teh Kayu Aro dengan latar Belakang Gunung Kerinci
Sjafrin
Noer dari Bagian Humas PT Perkebunan Negara (PTPN) VI, yang mengelola
perkebunan seluas 3.020 hektar ini, menjelaskan, pohon tersebut adalah
salah satu yang tertua yang sengaja dilestarikan PTPN VI. Di sana juga
terdapat buku-buku berbahasa Belanda yang memuat seputar Perkebunan Teh
Kajoe Aro. Dari buku dan ceritanya, kami baru mengetahui besarnya
perkebunan ini, dan begitu terkenalnya produk teh ini di mata dunia.
Sekaligus juga kami berpikir, mengapa Perkebunan Teh Kajoe Aro malah
tidak begitu dikenal di Tanah Air. Setidaknya kalah populer oleh
perkebunan teh di Jawa Barat. Ini dikarenakan sebagian besar dari
produksi teh kayu aro sengaja di ekspor ke luar negeri.
Tak
hanya saat menikmati sejuk dan indahnya hijau perbukitan yang berada di
ketinggian 1.400 meter hingga 1.600 meter dari permukaan laut (dpl).
Selain menyaksikan pohon-pohon teh tua varietas Seddling asli
didatangkan dari Belanda, kita juga dapat menikmati citarasa teh
sesungguhnya.
Hendrik,
asisten pabrik yang ditemani dua petugas tester berusia setengah baya,
kemudian mengajak kami mencicipi enam rasa Teh Kajoe Aro terbaik di
pabrik ini yang disebut Grade I. Cangkir-cangkir porselen disusun
berderet, dan diisi teh berwarna agak kuning kemerahan. Minuman teh itu
dicicipinya sesendok demi sesendok, dengan mulut yang memoncong, lalu
air dalam sendok itu dihirup dengan cepat. Slurppp….
“Beginilah
cara mengetahui rasa dan wangi Teh Kajoe Aro. Disedot cepat dari mulut.
Memang terdengar agak keras, tetapi akan lebih terasa citarasa tehnya,”
tuturnya.
Sekilas
tak tampak perbedaan di antara teh-teh tersebut. Warnanya setelah
diseduh dalam cangkir menjadi hampir-hampir sama, wanginya juga.
Enam
rasa teh terbaik Kajoe Aro adalah jenis broken oranye pecco (BOP),
broken oranye pecco fanning (BOPF), pecco fanning (PF), broken tea (BT),
broken pecco (BP), dan dust. Masing-masing memiliki rasa yang berbeda
meski sama-sama digolongkan teh hitam.
“Jika baru mencoba mencicipi, memang agak kurang peka membedakan wangi dan rasanya,” tutur Hendrik lagi.
Namun,
jika minum teh ini sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian, akan jadi
mirip seperti ketika kita minum anggur. Kita takkan lupa meresapi
aromanya terlebih dahulu sebelum meminumnya dan tak perlu mencampurnya
dengan gula karena sesungguhnya ada rasa manis yang spesifik pada teh
ini. Perbedaan rasa pada masing-masing jenis teh tercipta dari
fermentasi pada suhu tertentu yang menghasilkan enzim-enzim berbeda
pembentuk rasa dan warna. Rasa teh jenis dust, misalnya, sangat kuat dan
kelat di lidah, sedangkan warnanya pekat. Rasa teh jenis BP dominan
mentol. Kalau yang jenis BOP warnanya lebih jingga, rasanya tidak
terlalu kelat.
Seluruh jenis teh ini diakui oleh para penikmatnya, sebagai teh dengan citarasa terbaik yang ada di dunia. Itu sebabnya Ratu Inggris Elizabeth II masih setia menikmati Teh Kajoe Aro setiap hari. Bahkan, 80 persen
dari hampir enam juta kilogram produksi teh kering per tahun yang
dihasilkan PTPN VI, diekspor ke Inggris. Sisanya, diekspor ke sejumlah
negara di Eropa, Timur Tengah, dan dalam negeri. Selain teh-teh Grade I,
ada delapan jenis lain yang diproduksi, masuk kategori Grade II dan
III.
Pada penjajahan Belanda, teh Kayu Aro dikenal sebagai minuman Ratu Belanda, Wihelmina. Sekarang diyakini juga menjadi minuman favorit Ratu Belanda Beatrix.
Teh
Kajoe Aro diproses tanpa campuran kimia dan bermanfaat untuk kesehatan
karena mengandung riboflavin yang membantu pertumbuhan, pencernaan, dan
vitalitas; Polifenol sebagai antioksidan jenis biolavanoid yang 100 kali
lebih efektif dari vitamin C. Ini juga 25 kali lebih efektif dari
vitamin E yang sangat berguna mencegah kolesterol jahat pemicu
pertumbuhan plak penyumbat pembuluh darah arteri.
Hingga kini, pabrik teh Kayu Aro yang berusia 70 tahun itu merupakan pabrik teh terbesar di dunia dan masih aktif berproduksi.
Sumber : (Dikutip dari Kompas 26 Januari 2007)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Secara Sopan